Rp. 285.000
|
Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra Jenis Cover : Softcover Tahun Terbit : 2000, Cet. 2 Dimensi : 14.5 x 21 cm | xxvi+262 halaman Kondisi : Bekas Berat : 0.55 kg Stok : Tersedia Pemesanan: SMS/WA 081212-088121 Lihat foto buku Pada zamannya Kartini adalah inspirator - tetapi sekarang, faktanya, Kartini hanyalah puing-puing yang coba dihidupkan setahun sekali. Kartini sudah kehilangan nilai simblis. Maka tidak berlebihan jika ada yang berpendapat bahwa Kartini di akhir abad 20 hanya sebuah lukisan yang dipasang di museum. Pram dalam Panggil Aku Kartini Saja, menyunting surat-surat Kartini, kemudian membahas dan mengejawantahkan sesuai dengan paham yang dipercayainya secara kental. Semuanya ini hanya pengembangan dalam bahasa Pram ataupun Nursyahbani Katjasungkana yang disesuaikan dengan tujuan masing-masing, untuk menjadikan Kartini yang cerdas ini sebagai figur yang memang sangat pas untuk dibawa ke paham apapun, karena secara tidak terduga Kartini meramu semua paham (sosialis, liberalis, demokratis, religius, feminis, dsb) dalam suatu kemasan (baca: prosentase) yang berimbang dalam sejarah hidupnya melalui tulisan. Bahasan Nursyahbani yang bersifat nostalgia, misalnya Nursyahbani dari kecil dididik oleh orang tuanya untuk menjadikan buku Habis Gelap Terbitlah Terang ini menjadi buku keramat (sesuai dengan kalimat yang diambil dari sambutan Nursyahbani : ………menyerbu buku R.A. Kartini itu dengan mencuci tangan lebih dulu……..), malah membuat ”kebesaran” Kartini menjadi lebih ”enteng”. Dalam Panggil Aku Kartini Saja, Pram juga mengulas gaung Kartini di dunia Internasional. Bagaimana Ratu Belanda saat itu mengagumi hasil karya batik buatan tangan Kartini dan ukiran kayu Jepara hasil promosi dan dorongan dari Kartini (terlihat kepedulian Kartini dalam mendorong usaha kecil masyarakat) dalam pameran hasil karya bangsa Hindia di negeri Belanda (pada saat Kartini masih hidup). Bagaimana tokoh-tokoh (bukan hanya perempuan saja) yang tertarik untuk mengutip kalimat-kalimat Kartini dan menterjemahkan ke dalam berbagai bahasa setelah surat-surat Kartini dihimpun dan diterbitkan oleh Mr. Abendanon. Di sinilah keunikan dalam membaca karya Pram, khususnya buku Panggil Aku Kartini Saja. Saya jamin pembaca juga akan diajak berdialog dengan diri sendiri oleh Pram, tidak hanya sekedar mengikuti apa kata dan cerita indah dari Pram. Dan banyak hal lain mengenai kehidupan kaum ningrat, kehidupan Kartini sendiri, maupun kehidupan rakyat jelata di jaman Kartini yang dapat di-reply ulang oleh surat-surat Kartini ke sahabat-sahabat penanya: Estelle Zeehandelaar, Nyonya H.G. de Booij-Boissevain, Nyonya Abendanon, E.C. Abendanon, Nyonya Van Kol, Dr. N. Adriani, dsb-nya. Bagaimana Kartini tidak menyukai beberapa adat Jawa yang membuat pergaulan di antara saudara menjadi kaku : Mengejutkan adat kami orang Jawa. Kalau seorang adik duduk di atas kursi dan aku hendak lalu, mestilah dia segera meluncurkan diri ke tanah dan di sana duduk menekuri tanah itu sampai aku tak nampak lagi olehnya…..(Bayangkan bila adat ini berlaku di masa sekarang). |

BUKU LAINNYA :

Rohana Kuddus

Larasati

Gadis Pantai

Bangkitnya Nasionalisme Indonesia

Politik Islam Hindia Belanda

Misquoting Jesus

Sejarah Indonesia Modern 1200-2008

Kewibawaan Tradisional, Islam dan P...

Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa

Mohammad Hatta: Biografi Politik

Sukarno: A Political Biography

Jenderal Mayor Bambang Sugeng

Panglima Besar TNI Jenderal Soedirm...

Bung Karno Sahabatku

Memoar Sidarto Danusubroto: Sisi Se...