Rp. 45.000
|
Al-Quran, Hermeneutik dan Kekuasaan
Kontroversi dan Penggugatan Hermeneutik Al-Quran |
Rp. 45.000
|
Al-Quran, Hermeneutik dan Kekuasaan
Kontroversi dan Penggugatan Hermeneutik Al-Quran
Penulis: Nashr Hamid Abu Zayd
Penerbit: RQiS Jenis Cover: Soft Cover Tahun Terbit: 2003, Cet.1 Dimensi: 15 x 21 cm | 208 halaman Kondisi: Stok Lama Berat: 0.25 kg Stok: Tersedia Pemesanan: SMS/WA 081212-088121 Beli di: BUKALAPAK Bahasa dan otoritasnya ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain, meskipun dalam fakta sosiologis watak otoritatifnya lebih dikedepankan daripada kenyataannya Al-Quran sebagai bahasa. Oleh karena Al-Quran sebagai bahasa seringkali diabaikan, maka proses pemaknaan terhadapnya pun seringkali dinafikan. Seolah-olah Al-Quran dengan sendirinya telah menyatakan sesuatu yang jelas dan harus dipatuhi. Padahal, bahasa hanya dapat dimaknai melalui proses pemaknaan tersebut. Dus ini berarti Al-Quran yang 'historis', yang diturunkan dalam kurun waktu lebih dari 20 tahun dalam situasi yang terus berkembang dan berubah diabaikan sama sekali, terlebih setelah Al-Quran tersebut dimodifikasikan dalam bentuk mushaf. Kesadaran atas historitas Al-Quran inilah yang hendak ditanamkan oleh Nashr Hamid Abü Zayd melalui pendekatan hermeneutik yang ia terapkan dalam mengkaji Al-Quranl Walaupun untuk itu ia harus membayar mahal, bepisah dengan negara, rumah dan kolega. Nashr Hamid Abü Zayd (lahir di Tantra Mesir tahun 1943) mulai belajar di Universitas Kairo dengan memperoleh gelar B.A dalam bidang studi bahasa Arab (1972) dan kemudian memperoleh gelar M.A. (1977) dan Ph. D (1981) dalam bidang studi Islam, dengan kajian-kajiannya berkenaan dengan penafsiran Al-Quran. Dia bekerja sebagai dosen, sejak tahun 1982 sebagai asisten professor dan dari tahun 1987 sebagai associete professor di Departemen Bahasa dan SastraArab Universitas Kairo. Pada tahun 1995 dia dipromosikan dengan pangkat keprofessoran, namun setelah kontroversi Islam tentang karya akademiknya yang melahirkan keputusan pengadilan "pemurtadan", akhirnya dia meninggalkan Mesir untuk pergi ke Nederland. Saat ini dia mengajar di Universitas Laiden. |