Penulis: Sumanto Al Qurtuby
Penerbit:
Inspeal Press
Jenis Cover : Softcover
Tahun Terbit : 2003, Cet. 2
Dimensi : 14.5 x 21 cm | 311 halaman
Kondisi :
Stok Lama
Berat : 0.5 kg
Stok :
Tersedia
Pemesanan: SMS/WA 081212-088121
Beli di:
BUKALAPAK
Arus Cina-Islam-Jawa, sebuah buku yang membongkar tentang peranan Cina dalam penyebaran agama Islam di Nusantara abad XV dan XVI berhasil tampil beda dengan kualifikasi yang sangat memadai melalui "Teori Cina"-nya. Yaitu teori yang lantang mengatakan bahwa Islam datang ke Nusantara bukan dari Timur Tengah/Arab maupun Gujarat/ India, tetapi dari Cina yang dikenal sebagai moyangnya Buddhisme dan Konfusianisme. Dalam penghampiran editor ini, kami tidak bcrmaksud menjelaskan kenapa "Teori Cina" ini dim unculkan dan bagaimana persinggungannya dengan ' 'Teori Arab" dan "Teori India" dalam arena kontestasi dunia sejarah. Sebab, pembahasan tentang aneka ragam teori masuknya Islam di Nusantara itu bisa pembaca nikmati di Sekapur Sirih-nya Cak Nur (sapaan akrab Nurcholish Madjid), dan tentu di dalam buku menggetarkan ini. Di sini kami hanya ingin membidik "ruh" yang mungkin melatarbelakangi kenapa buku ini lahir dan hadir di tengah-tengah Anda. Marilah penghampiran ini kita mulai satu per satu.
Membicarakan persoalan etnis Cina (terlepas dari perdebatan penggunaan istilah "Cina" dan "Tionghoa") di persada Nusantara, dalam locus kesejarahan, diakui ataupun tidak, sangatlah menarik. Sebab, dalam percaturan sejarah nasional, etnis Cina di Indonesia memiliki "cerita tersendiri" bila dibandingkan dengan etnis minoritas pendatang lainnya, seperti Arab dan India. Bagaimana tidak? Secara khusus etnis Cina terlibat atau dilibatkan dalam politik pemerintahan dan ekonomi kolonial Belanda. "Politik komunal" atau "politik etnis"—meminjam bahasa Azyumardi Azra—yang dimainkan penguasa Belanda melalui pencitraan negatifdan perlakuan diskrimantifterhadap kiprah etnis Cina dan berlanjut hingga puncaknya di zaman pemerintahan Orde Baru adalah salah satu bukti bahwa keberadaan etnis Cina di Nusantara ini memiliki kedudukan khusus dalam percaturan politik dan ekonomi saat itu. Maklum, etnis Cina yang berjumlah lebih dari 5 juta jiwa adalah mayoritas dalam kelompok minoritas Tanah Air.