Rp. 58.000
|
Menjaga Rumah Kebangsaan
Editor: Imran Hasibuan
Penerbit: Q-Communication Jenis Cover : Softcover Tahun Terbit : 2009, Cet.1 Dimensi : 18 x 25 cm | 340 halaman Kondisi : Baru Berat : 0.9 kg Stok : Tersedia Pemesanan: SMS/WA 081212-088121 Beli di: BUKALAPAK Persis seperti ucapan Cicero itulah tujuan buku ini disusun dan diterbitkan. Sosok Haji Muhammad Taufiq Kiemas—atau lebih dikenal luas dengan sapaan Bung TK—sejatinya sudah dikenal luas di kalangan perpolitikan nasional. Tapi, jabatan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) sejak awal Oktober 2009 lalu, telah menempatkan sosok Taufiq Kiemas dalam sebuah ruang publik yang lebih luas dan terbuka. Sebelumnya telah terbit dua buku mengenai Bung TK, yaitu: “Tanpa Rakyat Pemimpin Tak Berarti Apa-apa: Jejak Langkah 60 Tahun Taufiq Kiemas” (Pustaka Sinar Harapan, 2002) dan “Jembatan Kebangsaan: Biografi Politik Taufiq Kiemas” (Q-Communication, 2008). Namun, suasana politik ketika kedua buku itu ditulis tentunya berbeda dengan situasi sekarang, dimana Bung TK telah menjabat sebagai Ketua MPR—sebuah jabatan publik yang sangat terhormat dalam tatanan kenegaraan Republik Indonesia. Dalam perjalanan hidupnya hingga menduduki jabatan publik sebagai Ketua MPR, Bung TK telah mengalami pasang surut serta pahit-manisnya pentas politik nasional. Dalam rentang waktu kehidupan itu berbagai gagasan dan tindakan yang berkaitan dengan dunia politik lahir dari seorang TK. Gagasan dan tindakan tersebut merupakan respon Bung TK terhadap perkembangan situasi politik di masyarakat. Sebagai politisi, tentunya Bung TK memiliki insting untuk mengukuhkan eksistensi, mengonsolidasi posisi, dan sekaligus memperbesar pengaruh politiknya, baik di dalam partai (PDI dan PDI Perjuangan) maupun pentas politik nasional. Dalam bahasa popular yang sering disampaikan Bung TK sendiri: “Seorang politisi sejati itu nggak ada matinya”. Gagasan atau ide merupakan hal yang penting dalam dunia politik. Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan dan Presiden pertama Republik Indonesia, dalam salah satu pidatonya mengatakan: “…suatu ide yang agung dan luhur selalu menjadi lokomotif sejarah. Suatu ide kalau sudah masuk ke dalam kalbu dan pikiran sesuatu rakyat, dapatlah menjadi petir yang sambaran-sambarannya dapat menerangi angkasa sejarah. Malah guruh gunturnya masih akan terdengar, kalaupun sinar-sinar sambarannya lama sudah tak kelihatan lagi.” Di dalam buku ini, kami mencoba merekam berbagai gagasan, sikap, dan tindakan politik yang pernah dilakukan Bung TK dalam perjalanan hidupnya. Sejak kecil dan remaja, ia telah belajar bersikap sebagai seorang republiken. Arus sejarah kemudian membawanya menjadi seorang nasionalis yang selalu memperjuangkan tegaknya persatuan dan kebhinnekaan di negeri ini. Sosok Bung TK sendiri, seperti dikatakan seorang pengamat, bagaikan “jembatan kebangsaan” yang selalu siap menghubungkan berbagai kepentingan yang beraneka-ragam dalam pentas perpolitikan nasional. Dalam konteks itu, salah satu gagasan Bung TK yang pantas dicatat adalah tentang menjadikan PDI Perjuangan sebagai “Rumah Besar Kaum Nasionalis”. Konsepsi “Rumah Besar Kaum Nasionalis” ini sejatinya merupakan aktualisasi gagasan-gagasan Bung Karno tentang keindonesiaan dan nasionalisme. Bung Karno sendiri pernah menegaskan suatu kondisi bahwa menerima Pancasila dan menerima Indonesia hanya bisa dilakukan apabila kita menerima keadaan pluralisme. Dengan demikian, jelaslah bahwa Pancasila merupakan simbol pemersatu (sign of unity) karena ia berada ditengah-tengah landscape anthropologis dan sosiologis yang berbeda-beda dan beragam. Gagasan Bung TK lainnya yang kami rekam dalam buku ini, diantaranya, berkaitan dengan pengembangan demokrasi; kepemimpinan politik; dan membangun kaum borjuasi nasional. Adapun berbagai tindakan politik yang dilakukan tak terlepas dari kesadaran Bung TK sebagai seorang pemimpin politik. Bagi beliau, menjadi pemimpin politik didasari keterpanggilan untuk memperbaiki bangsa dan negara ke arah yang lebih baik. Kepemimpinan politik yang negarawan sangat terkait dengan komitmen kebangsaan dan kenegaraan. Layaknya seorang negarawan, Bung TK senantiasa memikirkan yang terbaik bagi bangsa dan negara dan memegang komitmen untuk memberikan yang terbaik bagi kebangsaan, kerakyatan, bahkan kemanusiaan universal. Berbagai gagasan dan tindakan politik Bung TK dilandasi semangat beliau untuk menjaga rumah kebangsaan Republik Indonesia agar tetap berdiri tegak dan memberikan kenyamanan bagi para penghuninya: segenap anak bangsa Indonesia. Dengan jabatan sebagai Ketua MPR-RI yang kini disandangnya, tanggungjawab itu menjadi lebih berat. Untuk itu, Bung TK sudah menyatakan kesiapannya untuk mengawal konstitusi dan menjaga rumah kebangsaan sepanjang hayat masih dikandung badan. Dengan kerendahan hati, kami menghadirkan buku ini ke hadapan pembaca. Sebagaimana lajimnya, kami mengakui masih ada kekurangan disana-sini. Dan akhirulkalam, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penerbitan buku ini. Tanpa keringanan tangan mereka, buku ini tak bisa hadir ke hadapan pembaca. |

BUKU LAINNYA :

Pembatasan Konstitusional Kekuasaan...

Kudeta

Mengelola Keragaman di Indonesia

Bangkitnya Nasionalisme Indonesia

Politik Islam Hindia Belanda

Sejarah Indonesia Modern 1200-2008

Kewibawaan Tradisional, Islam dan P...

Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa

Republik

Fiqih Jihad

Max Weber Sebuah Khazanah

Gadis Pantai

Runtuhnya Istana Mataram

Panggil Aku Kartini Saja

Mohammad Hatta: Biografi Politik

Sukarno: A Political Biography

Jenderal Mayor Bambang Sugeng

Panglima Besar TNI Jenderal Soedirm...