Rp. 45.000 |
Dari Hati ke Hati
Penulis : Prof. Dr. Hamka
Penerbit: Gema Insani Press Jenis Cover : Soft Cover Tahun Terbit : 2016, Cet.1 Dimensi : 15 x 23 cm | 262 halaman Kondisi : Baru Berat : 0.45 kg Stok : Tersedia Pemesanan: SMS/WA 081212-088121 Beli di: BUKALAPAK Sama halnya dengan budaya asing yang masuk, maraknya penghilangan identitas ajaran agama pun terjadi. Bahkan, benih-benihnya telah ditanam sejak masa kolonial Belanda yang masuk ke Nusantara. Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mengalami hal ini sejak zaman penjajahan puluhan tahun silam. Adanya deislamisasi, indoktrinasi, termasuk westernisasi bukan lagi isu dan gerakan kekinian semata. Sejak zaman itu, pergulatan Islam dengan kelompok anti Islam telah berlangsung. Islam merupakan satu-satunya peradaban yang pernah menguasai Barat dalam kurun waktu 700 tahun. Oleh karena itu, Islam dianggap ancaman besar yang perlu diwaspadai bahkan dihancurkan jika Barat ingin tetap menguasai dunia. Melihat kenyataan tersebut, negeri Barat tak segan-segan menggelontorkan dana jutaan dolar untuk program-program demikian di negeri-negeri Islam, khususunya di Indonesia. Mengamati kasus yang ada, Prof. Dr. Hamka yang kala itu juga sebagai Ulama tergerak untuk menuliskan hal ini. Beberapa pemikiran Hamka menyangkut persoalan ini merupakan kumpulan tulisannya yang pernah termuat dalam Majalah Panji Masyarakat. Melalui buku Dari Hati ke Hati ini, Buya Hamka mengajak Para Muslim serta masyarakat Indonesia semua—dari berbagai suku maupun agama lainnya untuk turut melaksanakan toleransi dan kerukunan umat beragama dengan sebenar-benarnya. Jangan sampai hanya karena pengadaan deislamisasi, indoktrinasi, termasuk westernisasi yang dibawa negeri Barat akan merusak moral bangsa dan persatuan antar umat beragama di Indonesia. Seperti makna dari surat al-Kaafiruun ayat 6 yang dituliskan Hamka dalam buku ini, bahwa untukmu agamamu, dan untukku agamaku. Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘aalamin. Dengan itu, tak ada paksaan bagi umat manusia yang beragama nonIslam untuk memeluk agama Allah Azza wa Jalla ini. Agama Islam turun ke bumi sebagai rahmat bagi alam semesta, termasuk bagi makhluk ciptaan-Nya. Biarkan hidayah dari Allah yang menjemput untuk mengakui ke-Esa-an-Nya, bukan dengan jalan “paksaan”. Sebab, keyakinan bersumber dari hati setiap insan, bukan keinginan yang hanya terlukis dari sikap semata. Namun, yang terjadi ketika munculnya deislamisasi, indoktrinasi, serta westernisasi ini justru dapat merusak ukhuwah Islamiyah maupun kerukunan umat beragama yang ada di Indonesia. Adanya hal ini bertujuan untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam itu sendiri. Sebab, umat Islam hanya akan menjadi kuat dan tidak terkalahkan ketika ajaran Islam menyatu dalam hatinya. Seakan-akan yang terjadi dalam tahun-tahun tersebut, bahkan menjangkit hingga kini adalah umat Islam yang dituntut untuk mengamalkan toleransi. Namun, dalam arti tidak menjaga agamanya dan tidak boleh menjalankan agamanya dengan baik. Sementara itu, pemeluk agama lain bebas menjalankan agamanya atas nama Hak Asasi Manusia. Dalam buku ini, Buya Hamka pun menyoroti segala permasalahan yang berhubungan dengan politik dan sosial budaya. Pasang surut perpolitikan Indonesia meskipun memberi angin segar bagi umat Islam, bukan berarti tanpa tantangan. Umat Islam yang menjadi penggerak kemerdekaan belum bisa dikatakan mendapat porsi yang cukup dalam politik. Berkaitan dengan itu, Prof. Dr. Hamka juga mengangkat masalah budaya akibat deislamisasi yang menjangkiti Islam di Tanah Air. Salah satunya terjadi upaya kelompok kebatinan Jawa untuk melepaskan Islam yang telah mengakar dalam budaya Jawa agar kembali ke masa sinkretisme. Berbalut cover warna merah hati, buku ini menyampaikan banyak pengetahuan dan pesan kepada umat Islam. Dengan gaya penyampaiannya yang khas, Buya Hamka berusaha memompa semangat sesama umat Islam untuk mempertahankan ghirah keislamannya. Teruslah melangkah di jalan Allah dan bentengi diri dengan keimanan. Selain itu, agar mengubah pola pikir kita sebagai umat Islam maupun mereka pemeluk agama lain mengenai arti toleransi dan kerukunan beragama yang sebenarnya. Jangan mudah terprovokasi dengan segala hasud yang dibawa negeri Barat ke Tanah Air. Gunakan hati sebagai jembatan untuk menghormati dan menghargai setiap ajaran antar agama. Berbekal membaca buku Dari Hati ke Hati ini, bersama kita merengkuh perdamaian antar umat beragama. Tentunya, tanpa menghilangkan identitas ajaran agama lain terhadap pemeluknya, apalagi sampai harus ikut-ikutan mengamalkan ajaran agama lain. Jika sampai dilakukan, maka itu adalah pengaplikasian sikap toleransi yang keliru. |

BUKU LAINNYA :

Angkatan Baru

Pandangan Hidup Muslim

Keadilan Sosial Dalam Islam

Kesepaduan Iman dan Amal Saleh

Perang Salib Sudut Pandang Islam (E...

Islam Doktrin dan Peradaban

Dekonstruksi Gender

Islam, Negara & Civil Society

Islam, Pancasila dan Pergulatan Pol...

Bangkitnya Nasionalisme Indonesia

Politik Islam Hindia Belanda

Sejarah Indonesia Modern 1200-2008

Kewibawaan Tradisional, Islam dan P...

Max Weber Sebuah Khazanah

Gadis Pantai

Runtuhnya Istana Mataram

Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam

Misquoting Jesus